Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Seru juga mungkin ya, mengabadikan lagu yang sedang didengar.


Setiap orang pasti punya lagu kesayangan di tiap masanya. "Apa lagu terapimu, Cak?" begitu seringkali tanyaku pada seorang sahabat, saat kami tengah dinas berdua di kabupaten sebelah. Dari pada planga-plongo dan ghibah di kamar hotel.


Lagu sering seperti sahabat. Ada kalanya di suatu masa, aku selalu bersama sebuah lagu. Heavy rotation! Diputar terus, tanpa henti sejak bangun pagi di speaker bluetooth, nyantol di True Wireless Earphone sembari berangkat kerja, hingga dinikmati di ujung malam sembari memejam mata.


Tapi ya gitu. Tak ada yang abadi. Segemar-gemarnya akan sebuah tembang, ia akan sirna juga. Perlahan memudar. Akan datang kali terakhir kita memutarnya, dan tak memutarnya lagi.


Lama, sampai waktu mempertemukannya kembali dengan tidak sengaja. Seperti lagu ini.


Judulnya High, dari Lighthouse Family. Terbit di tahun 1997 silam. Whoa.... silahkan klik link ini untuk menikmatinya https://youtu.be/taOL5HJdx1A


Iramanya mengingatkan pada Dancing in The Moonlight by Toploader. Disko-disko ringan, sembari mengangguk-angguk minum tequila atau Coca-Cola, di sebuah pesta senja musim panas.


Aku sendiri lupa, di masa hidup tahun berapa akrab dengan lagu ini. Yang pasti di tahun 1997 aku baru mulai mengenyam bangku SD.


Yang pasti, beat-nya yang membuat semangat, liriknya yang hangat, serta nuansa lagunya yang ceria membuatku tak tahan untuk berdiam. Ingin bergerak, berdansa, mengikuti reff-nya.

* * *


Beberapa lagu datang dan pergi.

Beberapa lagu pergi, namun saat kembali, membuat senyum tak henti-henti.


Judul:
Hero

Artis:
Family of The Year

Album:
Loma Vista, 2012

Terdengar Seperti:
Hibrida ilegal antara John Mayer di album Paradise Valley, mix indie akustik, didengarkan oleh koboy putus cinta sembari berkuda di suatu ranch

Tingkat Nyleneh:
Pernah dengar drummermemukul snare drum pakai tangan? Persis kendang kempul di orkes dangdut?

Cocok Didengarkan Saat:
Sore terakhir sebelum SkyNet berhasil meluncurkan nuklir. Sembari minum teh, kita akan mengingat kembali semua dosa dan pencapaian hidup, sebelum akhirnya beranjak dari kursi, dan menyambut kiamat dengan tangan terbuka!
*  *  * 

Hai!

Berjumpa dengan lagu itu kadang sejenis pengalaman spiritual. Susah diceritakan, sulit dicari padanannya. Karena, sifatnya amat personal.

Personal itu maksudnya gini.

Sering, kita mendadak ketemu lagu yang keren, sampai spontan mengutuk dalam hati: "holyshit!!! ini lagu gue banget!" Kemudian, dengan semangat '45, kita sodorkan lagu itu ke seorang sahabat. "Bro, coba deh dengerin lagu ini..." Niat luhur, untuk berbagi pengalaman menakjubkan.

Tapi -duh Gusti- coba bayangkan tanggapan sahabat ternyata biasa aja. Malah mukanya lempeng. Nah, keadaan jadi garing dan memalukan. Sering begitu kan? Sebenarnya itu adalah bukti otentik, bahwa lagu dan pendengarnya punya koneksi yang unik. Beda hati, beda gendang telinga, akan beda pula sensasi lagu di tiap orang.

Ini cerita tentang sebuah lagu. Niatnya, kelak tulisan bertema Song of The Week macem ini bakal mengulas lagu yang tiba-tiba menghantuiku.

Yuk, lanjut!
*  *  *

Senin, 29 Juli 2019. 14:45 WITA

Aku sedang ada dalam mobil pelat merah yang melaju, membelah hutan alami khas pedalaman. Baru saja aku selesai melakukan tugas kantor, untuk mengunjungi suatu kota di sudut pulau bunga: Flores. Ngantuk. Berkali-kali aku tertidur.

Dicky, sang pengendara mem-pairing iPhone-nya ke perangkat audio mobil. Kita biasanya selalu punya seorang teman, yang memutarkan lagu seenak-udelnya sepanjang perjalanan. Sosok kurang ajar macem itu biasanya aku, namun kali ini Dicky lebih cekatan.

Kemudian ia menyiarkan lagu-lagu Top 40 yang artisnya entah siapa. Terserahlah. Sebagai generasi yang playlist-nya stuck  di 90'an akhir, kala Travis dan JRX menguasai radio, musik kekinian macem Ariana Grande tentu obat kantuk mustajab.

Tapi, ada satu lagu yang membuatku bangun.
Kok alunannya enak!
Lagu apakah gerangan?

"Siapa yang nyanyi itu tadi, Dick?"
"Oh, anu Bli. Family of The Year..."  sahut Dicky sekenanya, sembari fokus mengemudi.
"Judulnya apa?"
"Aduh, apa ya, Bli.... beta lupa..."

Ya sudah. Kubuka Spotify. Cari: Family of The Year... Ketemu! Ada juga band bernama nyleneh begini. Berhubung belum tahu lagu yang mana, kulihat saja list terpopuler mereka.

Dan aku cekikikan. Coba lihat sendiri:



Lagu paling wahid, Hero, ternyata didengarkan umat Spotify sebanyak dua ratusan juta kali. Sementara lagu kedua terpopuler hanya... enam jutaan! Jomplang betul, seperti tingkat kesejahteraan ekonomi di Indonesia. Jelas, kupilih tembang dua ratus juta.

Hmm... benar saja. Itu dia lagu yang tadi diputar Dicky.

Ini lagunya.


Judulnya "Hero".
Lagunya bernuansa akustik, akrab di telinga anak indie kekinian. Diawali petikan gitar sepi, kemudian satu persatu instrumen masuk. Snare drum yang dipukul tangan (!!!) dahulu, bass masuk, hingga drum di akhir. Mendadak lagu sepi ini jadi ramai nan semangat. Ingat Fix You?

Aku bukan tipe  yang peduli pada lirik. Entah liriknya bercerita tentang apa. Aku lebih terpikat pada rasa, sensasi yang kudapat kala menikmati suatu lagu.

Ada progresi chord yang jadi kelemahanku di Hero. Tiap ada lagu dengan chord ini, biasanya lagunya akan kusukai. Nada ke enam dan ke tiga dalam doremifasol, alias Si - Mi.

Bingung?
Sederhananya begini, kalau gitar main G, saat do=G mayor, maka chord ini adalah Em - Bm. Lagu sekelas "Heal The World", "Risalah Hati", "The Opening"-nya Superman Is Dead, hingga "Memories" OST One Piece memakai formula ajaib Em-Bm ini.

Selain progresinya seru, bangunan irama lagu Hero juga menggelitik. Ala-ala cowboy kesepian. Ada rasa country "Dear Marry"-nya John Mayer, juga "Sightlines"-nya Rogue Wave yang jadi OST Spiderman era Tobey. Rasa banjo dan bas yang statis, satu-satu, membuat lagu ini makin unik.

Awal slow, cenderung tenang, lalu memuncak hingga akhir. Seformula dengan Fix You: semangat nan lepas.

Lalu, dari segi bar. Nah ini menggelitik. Lagu "Hero" ini cenderung tak pas di delapan ketukan. Kadang lebih, kadang kurang. Itu yang membuatnya akan sulit untuk dihapal. Tapi yah... emang begitu. Seperti Dream Theater, yang ketukannya nyleneh-nyleneh malah bisa berkesan bagi pendengar, dengan catatan pasar bisa menerima.

Makhluk bernama seniman memang nyeni. Saat mereka sudah biasa nyeni dengan kata dan lirik, mereka akan mencoba nyeni dengan nada. Puas dengan nada, mereka akan nyeni dengan aransemen. Puas dengan aransemen aneh, mereka akan bereksperiman di ketukan. Layaknya saja Sheila on 7 di album Pejantan Tangguh, terutama lagu Briliant 3X yang penuh petualangan musikal.

Bedanya, eksperimen Family of The Year di lagu Hero ini sukses di pasaran, Dream Theater juga sukses dengan nyleneh-nya, namun pasar kurang sreg pada album Pejantan Tangguh (tapi percayalah, Pejantan Tangguh dan Briliant 3x adalah favoritku sampai liang kubur). Fuck You, Pasar!

Dari semua hal-hal tentang lagu Hero ini, kurangkum jadi satu:
Langgam ini enak didengarkan saat suasana sedih karena ia menjadikannya bahagia. Merenung, diubahnya jadi semangat. Haru, didorongnya jadi harap. Lagu ini seperti sebuah perjalanan yang menyenangkan dan mendewasakan. Indah.
Monggo nikmati...



seri #SoTW alias Song of The Week,
rencananya jadi rubrik rutin
kalau ketemu lagu seru

.... rencananya...


"Heh? Vokalis Linkin Park yang itu bunuh diri? Padahal musiknya termasuk bisa kunikmati, lho Wo..."

Begitu ujar Bli Made, rekan kamarku pagi ini begitu mendengar kabar terbaru Chester Bennington. Kami sedang bersiap berdinas, jadi kami bersiap dari kamar hostel.

Mengejutkan memang, kulihat banyak teman di dunia maya mengekspresikan kesedihannya. Bli Made bukanlah pecinta musik banget, apalagi tipe-tipe distorsi. Namun apa yang ia katakan bisa jadi mewakili ruang dengar banyak orang.

Chester memasyarakatkan metal, dan memetalkan masyarakat.
Itu sahih, my brader!

Musik metal yang awalnya sekadar didengar sekelompok anak berbaju hitam di kamar gelap dengan potongan kepala kelelawar dekat poster Black Sabbath, kini muncul di MTV. Mendominasi!

Yeah.. suka atau tidak, Linkin Park bisa sebesar sekarang mungkin karena ia menandai (dan memprovokasi) suatu perubahan jaman. Apalagi bagi generasiku, yang tumbuh di tahun 90an, saat musik mainstream sedang -duh Gusti- menjemukan.
* * *

Alkisah, pada awal jaman, generasi rapi klimis Inggris ala Mods menguasai dunia. Pasukan tampan ini dipimpin McCartney dan Lennon. Musiknya manis, mengenalkan dunia pada konsep hiburan baru: grup band. Konsep baru ini membawa semangat muda yang menyegarkan.

Tahta musik mainstream dunia dilanjutkan oleh generasi begajulan: rambut gondrong, pakaian serampangan ala Deep Purple, Rolling Stone dan lainnya. Musiknya menghentak, mengenalkan dunia pada distorsi, bahwa musik berisik juga asik. Rock and roll, baby.

Semangat terus berlanjut. Guns n Roses, Jovi, dengan grup seangkatannya yang penuh lateks dan kenakalan giliran mewarnai dunia, boombox, dan dinding para muda. Motto Sex, Drugs and Rock n Roll berjaya kala itu.
Namun, yah tak berlangsung lama.

Dunia musik mengajarkan, bahwa tak ada hegemoni yang abadi. Kegarangan melodi gitar Slash, ingar-bingar glamour Axl pun dirabas seorang anak muda berkemeja flanel dengan kemampuan gitar ala kadarnya, namun jadi diri dan semangat membara garang. Namanya Kurt Cobain.

Saat itulah, kira-kira aku baru lahir.

Kurt tak lama menjadi pangeran, mungkin karena motto terkenal "I hate myself and I want to die..." yang ternyata ia realisasikan. Begitulah, Kurt bunuh diri membawa mahkota musik dunia bersamanya.

Apa kabar dengan tampuk kepemimpinan musik dunia di 90an?

Ndak jelas!

Sebagai pencinta musisi yang benar-benar memainkan instrumen, menjelang millenium 2000 adalah era suram permusikan (dan perfilman) dunia. The Moffats, Hansons, mungkin pengecualian. Tapi sebagaimana Greenday, mereka belumlah bisa disebut penguasa dunia. Dunia malah dikuasai sekelompok pemuda-pemudi tanpa instrumen yang lagunya diciptakan produser dan berjoged di MTV.

Dari Boyzone sampai Spice Girl, Blue sampai F4, dari Britney Hit Me Baby sampai Britney I Am Slave... lol...

Saat itulah, kawanku, tepatnya circa 2002, pemberontakan meletus!

Mungkin dunia sedang butuh yang nakal, yang ndak manis-manis ala Fool Again-nya Westlife.

Dipimpin oleh Linkin Park, distorsi kembali naik kelir panggung. Seriously, bahkan Declaration of Revolution bertitel In The End itu masih terhapal sempurna di benak umat, belasan tahun kemudian terutama di section comment 9gag.

... It started with... (one thing... I don't know why...)

Linkin Park membawa aliran (yang oleh majalah dilabeli) Nu Metal, alias industrial metal. Bumbu pokoknya DJ, rapper dan tukang teriak. Boyband pun tergelincir dari tampuk kekuasaan musik dunia, alhamdullilah ya, digantikan generasi Blink, Linkin, dan Greenday yang mulai merangkak ke permukaan. Rock show!

Crawling, In The End, Pappercut, sampai My December mengawal tumbuh kembangku menutup masa SD 6 Dauhwaru. Aku bahkan meminjam kaset tape Hybrid Theory dari Rahtu, adik kelas yang lebih berada. Bahkan kuingat baju kelas kakakku XII IPA di Smansa Negara bergambar malaikat maut dengan sabit dan sayap capung.

Kurang rebel gemana coba, jaman itu...

Revolusi yang diletup Chester dkk itu masih terasa gelombangnya. Korn, Bullet, Avenged, dan bergenerasi adik-adik Chester Bennington dari beragam aliran distorsi melenggang, melanjutkan obor yang dinyalakan kembali itu. Linkin adalah pemantik api obor itu, meski bagaimanapun musiknya sekarang.

Jujur aku sudah tak mendengarkan mereka lagi sejak sekian lama. Tapi toh saat ini aku tetap merasa kehilangan, mendengar salah satu rebel itu meninggal pagi ini.

Kehilangan seorang yang memasyarakatkan musik metal, menghadirkan metal ke ruang dengar lebih luas. Seseorang yang merabas boyband-boyband berambut belah tengah, seseorang yang mengembalikan gitar bass drum kembali ke panggung.

Terima kasih atas kenangannya, Chester.

Teriakanmu akan senantiasa terkenang, bergema di hati angkatan kami. Terima kasih telah menjadi pengubah jaman. Kau tau, Chester, duh, kini keadaan tak jauh beda. Panggung musik dunia kini dikuasai alat elektronik. Jedug-jedug suara DJ. Di Jembrana, di sekolah, anak band entah kemana, parade-festival band yang dulu tiap minggu kini entah tiada... Di manakah, pemberontak, engkau bersembunyi?

Menanti titisanmu, Chester, generasi awatara baru, yang mengembalikan musik kembali ke alat-alat yang dimainkan tangan dan hati manusia. Band!

Bukankah ini penting? Dan perasaanku membunuhku!

I am a true believer.

(Jumat, 21 Juli 2017. Labuan Bajo)

Melihat kawanku punya Playstation seri terbaru? Ah... tak membuatku iri! Melihat kawanku punya motor baru dengan segala baut posh? Ah... tak membangkitkan seleraku.

Tapi melihat satu benda ini? Seketika liurku menetes.

Yeah.... Korg ToneWorks AX1500g adalah hantu masa kecilku. Sampai sekarang ia masih menghantui!

Sore ini sepi di kota Negara. Kuambil earphone, duduk ku di teras sambil memandang jalan depan rumah. Sepi. Kucolok 3,5mm jack di handphone, menu music kupilih, dan lagu ini kuputar.




"... ghost in my head..."
"... Just look up to the stars...
"... And believe who you are...
"... Cause it's quite alright..."
"Thx... PRJ!"
Hai!
Perkenalkan, namaku Dewa Made Cakrabuana Aristokra. Panggil saja aku Dewo, sebagaimana teman-teman sejak TK memanggilku sampai sekarang. Tahu kah kamu, kemarin aku baru saja menonton konser live Superman Is Dead setelah sekian lama?

Sekian lama... ya, lama sekali!
Dan konser kemarin -konser yang kutunggu-tunggu itu- jujur saja agak membuatku sedih. Sedikit sedih di tengah kebanggaan di dada akan kebesaran Superman Is Dead sekarang. Pekan Raya Jakarta jadi saksi pertemuan kami kembali. Bagian menarik dari pertemuan kali ini -entah karena panitianya memang lugu atau bagaimana- mereka menyepanggungkan SID dengan, ehm... Pee Wee Gaskins!!!



Seorang anak SD diam di depan radio Sony hitam ayahnya. Didengarkannya Radio Glegar Jembrana 100,7 FM yang tepat di jam 8 malam menyajikan lagu-lagu berkualitas nasional ke telinga daerah pelosok barat Bali bernama Jembrana.

Dan, lagu dari grup band Slank berjudul "Salah" memukaunya! Emosi si anak SD itu ditarik lagu berbeat drum konstan ini bertempo sedang ini. Mengaduk-aduk. Sampai di bagian melody, didihan tadi jadi meledak!!! Dan tepat diatas sana berdirilah sang gitaris, dengan enam senar pengaduk hati anak manusianya. Melodi yang dibuat mengiris, berawal sedang semakin meninggi, meninggi, melengking...

Sebuah penggambaran yang heroik :D